Berbagi Pengetahuan

Selasa, 26 Februari 2013

Jika Ustadz Jadi Wasit

Jika ustadz jadi wasit
Jika ustadz jadi wasit, maka sebelum pertandingan, sang ustadz memberikan kultum (kuliah terserah antum, bukan kuliah tujuh menit) di hadapan para pemain dan para suporter kedua kesebelasan.

Wasit : “Saudara, semoga Allah senantiasa menjaga kalian. Izinkan sejenak saya sebagai wasit memberikan sedikit wejangan kepada kalian. Dekatkanlah selalu diri kalian kepada Allah Yang Maha Tinggi. Jagalah lisan kalian dari saling mencela, suporter mencela suporter, suporter mencela pemain, pemain mencela pemain, pemain mencela wasit. Karena siapa yang mampu menjaga lisannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjamin surga baginya. Subhanallah! Bukankah surga adalah cita-cita kita bersama?”
*Para pemain dan para penonton mengangguk takzim.

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seseorang hendak menyogoknya.

Wasit : “Bertakwalah engkau, wahai hamba Allah! Tidakkah engkau tahu bahwa Rasulullah melaknat orang yang menyuap dan disuap?!”
Fulan : “Bukankah ini suatu perbuatan tolong menolong?”
Wasit : “Dengarkan! Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya, “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam dosa dan pelanggaran. Bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [QS. Al-Maidah: 2]

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain marah-marah karena gagal mencetak gol.

Wasit : “Janganlah engkau marah karena marah adalah batu berapi yang dilemparkan setan ke dalam hati manusia. Orang yang kuat bukanlah dia yang mampu mengalahkan musuh. Namun orang yang kuat adalah dia yang mampu menahan marah ketika dia bisa melampiaskannya. Jika engkau marah, maka berta’awwudz-lah (mengucapkan: ‘Audzubillahi minasy syaithanir rajiim). Dan jika suatu hal yang tidak engkau sukai menimpamu, maka katakanlah, “Qoddarullahu wama sya-a fa-’al (artinya: Allah sudah mentakdirkan segala sesuatu dan Dia berbuat menurut apa yang Dia kehendaki).”
Pemain : “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim (artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk).Terima kasih, wasit. Sekarang hatiku lebih tenang dan siap untuk mencetak gol!”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika seorang pemain hendak minum.

Wasit : “Sebutlah nama Allah untuk meminta keberkahan kepada-Nya. Minumlah dengan tangan kanan karena setan minum dengan tangan kiri. Janganlah boros, karena orang yang boros adalah saudara setan. Hendaklah kamu minum dalam keadaan duduk dan pujilah Allah atas nikmat yang telah Dia berikan untukmu.”
Pemain : “Bismillah. Gluk... gluk... Alhamdulillah. Thanks, sit. Sekarang dahaga gue udah hilang.Gue akan bermain lebih semangat lagi.”

Jika ustadz jadi wasit, maka ketika dua orang pemain bersitegang dan terlibat adu mulut.

Wasit : “Tenang, tenang. Janganlah berkelahi. Bukankah mukmin itu bersaudara? Sudah selayaknya bagi seorang muslim jika melakukan suatu kesalahan kepada saudaranya untuk meminta maaf. Dan hendaknya seorang muslim memaafkan kesalahan saudaranya.”
Pemain A : “Maafkan saya, kawan. Saya tadi tidak sengaja menyikutmu.”
Pemain B : “Ia, maafkan saya juga. Saya terbawa emosi sehingga saya menghardikmu.”
*Bejabat tangan lalu berpelukan
Wasit : “Indah, bukan? Jika suatu ikatan dilandasi syari’at Islam yang begitu mulia.”
Selengkapnya »»  

Senin, 25 Februari 2013

Berharap yang Terbaik

Berharap yang terbaik kepada Allah
Nabi NUH belum tahu banjir akan datang ketika ia membuat kapal besar & ditertawai kaumnya.

Nabi IBRAHIM belum tahu akan tersedia domba ketika pisau nyaris memenggal buah hatinya.

Nabi MUSA belum tahu laut akan terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya.

Yang mereka tahu hanya menjalankan perintah Allah dan berharap yang terbaik.
Selengkapnya »»  

Selasa, 20 November 2012

Pentingnya Membaca Ulang


membaca ulang
Salah satu tahap yang menurut saya sangat penting saat menerjemahkan adalah memeriksa hasil terjemahan atau membaca ulang. Ada yang memilih membaca ulang setiap selesai satu bab atau bahkan sebanyak target yang dicapai hari itu. Saya sendiri lebih suka membaca ulang setelah selesai satu buku. Untuk hasil terjemahan setebal 600-an halaman, saya butuh waktu kira-kira satu minggu untuk membaca ulang. Mungkin terasa membuang waktu, karena kita pasti kepinginnya cepat-cepat ngumpulin kerjaan dan dapat honor. Tapi demi kewarasan dan kebahagiaan editor, tidak ada salahnya meluangkan waktu sedikit lebih lama demi hasil terjemahan yang nyaman.

Mengapa tahap ini penting?  Karena saat membaca ulang, kadang kita baru menyadari hal-hal ‘aneh’ yang sebelumnya luput dari radar. Misalnya kata ‘mengangguk’ yang tidak sengaja kita ketik jadi ‘mengaduk’. Itu baru contoh sederhana. Waktu saya mulai belajar jadi editor, baru terasa betapa gemasnya ketika menemukan naskah terjemahan yang bolong satu paragraf, satu halaman, bahkan satu bab! Memang sudah tugas editor untuk mempercantik naskah, termasuk menambal bolong-bolong yang ditinggalkan penerjemah, tapi kan bikin pingin garuk-garuk tanah juga. Dan hal ini bisa dihindari jika penerjemah mau meluangkan waktu untuk membaca ulang sebelum menyerahkan terjemahan kepada editor.

Jadi, jangan malas untuk membaca ulang hasil terjemahan, termasuk memperbaiki ejaan-ejaan yang tidak sesuai dengan KBBI atau tata bahasa yang agak melenceng. Seperti menuju ke, naik ke atas, masuk ke dalam…kesalahan-kesalahan mendasar yang seharusnya tidak perlu terjadi. Lumayan meringankan tugas editor lho. Sesenior-seniornya penerjemah, yang namanya belajar atau meng-update ilmu tentu tidak boleh berhenti bukan? Apalagi saya yang masih pemula.

Selamat membaca ulang ^_^


(sumber : http://bruziati.wordpress.com/2012/05/30/pentingnya-membaca-ulang/)
Selengkapnya »»  

Tips Menerjemahkan Naskah Asing

menerjemahkan artikel
Menerjemahkan artikel dari bahasa asing ke bahasa Indonesia sesungguhnya adalah pekerjaan yang menyenangkan. Apalagi bila tulisan yang kita terjemahkan tersebut bermanfaat bagi diri kita dan orang lain. Berikut ini ada sedikit tips bagi teman-teman yang ingin mencoba menerjemahkan tulisan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia yang bisa kita singkat dalam sebuah ungkapan:

“Lima Pandai, Mudah Maknanya”


1. LIMA - Lihat Manfaatnya


Ini yang pertama dan utama. Lihat dulu tulisan yang akan diterjemahkan itu bermanfaat, tidak bermanfaat, atau malah membahayakan diri kita atau orang lain. Ini penting karena semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah subhanahu wata’ala di akhirat.

Kalau tulisan yang kita terjemahkan adalah tulisan yang positif, kemudian dibaca dan bermanfaat bagi banyak orang, maka kita pun akan dibalas dengan kebaikan. Kalau tulisan itu dapat membahayakan orang lain -misalnya dapat menyeret mereka kepada perilaku menyimpang- maka tinggalkanlah.

Bila Anda seorang penerjemah yang dibayar oleh pihak tertentu, jangan pernah berpikir “Saya adalah penerjemah profesional yang dibayar untuk menerjemahkan apa saja.” Jadilah seorang penerjemah yang idealis, karena kalau ada orang yang berperilaku menyimpang gara-gara Anda, maka Anda berdosa karena telah ikut serta menjerumuskan mereka.

‘Tolong menolonglah kalian dalam kebaikan, jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Dan yang kalau naskah anda terjemahkan tidak ada manfaatnya sama sekali, maka tinggalkan saja. Waktu kita di dunia sangat berharga, jangan digunakan untuk perkara yang sia-sia.


2. PANDAI - Pahami Global dan Tandai Kata-kata yang Sulit


Memahami naskah secara global sangat penting dalam menerjemahkan. Dari sini kita bisa tahu alur naskah dan apa pesan inti yang ingin disampaikan penulis. Lebih dari itu, dengan memahami alur global sebuah naskah, kita bisa melakukan partisi naskah (lihat point ketiga) sehingga menerjemahkan menjadi lebih mudah.

Setelah memahami naskah secara global, tandai kata-kata yang sulit dalam naskah, kemudian catat dalam sebuah buku, lalu cari artinya di kamus atau referensi lainnya. Bisa saja coret-coretan ini anda lakukan di naskah asli, tapi kalau saya sendiri sayang sama buku aslinya kalau harus dicoret-coret.


3. MUDAH - Terjemahkan Mulai Bagian yang Termudah


Kerja menerjemahkan adalah kerja dengan tingkat kebosanan yang sangat tinggi. Rekan-rekan yang sudah lama berkecimpung di dunia ini pasti tahu rasanya. Apalagi naskah yang diterjemahkan cukup panjang. Oleh karena itu kerjakanlah mulai dari bagian yang termudah, kemudian agak sulit sedikit, lalu yang terakhir yang benar-benar sulit. Dengan demikian kita akan semakin terpacu untuk menyelesaikan terjemahan. Apabila bagian yang sulit kita kerjakan terlebih dahulu, kebosanan akan lebih mudah menyerang kita.


4. MAKNANYA – Ingat bahwa Terjemahan adalah Transfer Makna bukan Transfer Tata Bahasa


Ini yang sering kali dilupakan oleh para penerjemah, terutama penerjemah naskah dari Bahasa Arab. Menerjemahkan adalah pekerjaan mentransfer informasi dari bahasa asing ke bahasa kita, bukan sekedar mengganti kata asing ke kata dalam bahasa Indonesia. Seringkali kita dapatkan ketidaknyamanan ketika membaca naskah terjemahan karena si penerjemah masih mengadopsi gaya bahasa asing dari naskah yang dia terjemahkan.

Sebagai contoh, di dalam bahasa Arab pola yang dipergunakan adalah kata kerja – subyek, berbeda dengan bahasa Indonesia yang mendahulukan subyek daripada kata kerjanya. Kalimat dalam bahasa Arab “Qoola Rasulullah” akan lebih nyaman di telinga kita bila diartikan “Rasulullah bersabda” daripada “Bersabda Rasulullah”.



Ini beberapa tips yang mungkin bisa menambah khazanah kita dalam menerjemahkan naskah-naskah asing. Mungkin masih banyak lagi kiat-kiat yang dapat mempermudah pekerjaan menerjemah yang bisa kita bahas di lain waktu.

Sebagai penutup, satu hal yang harus diingat oleh rekan-rekan penerjemah, pekerjaan menerjemahkan adalah pekerjaan mulia. Kalimat ini harus sering diulang untuk memotivasi diri kita. Karena tidak semua orang bisa berbahasa asing dengan baik, maka di sinilah peran penerjemah untuk mentransfer ilmu yang bermanfaat dengan amanah dan nyaman untuk dipahami.

Jadi, teruslah berkarya dengan menerjemahkan ilmu, semoga saudara-saudara kita yang lain bisa mengambil manfaat dari karya-karya terjemahan kita. Jangan lupa langkahnya:

“Lima Pandai Mudah Maknanya”

Selamat Berkarya!


(sumber : http://bahasa.kompasiana.com/2011/06/14/tips-menerjemahkan-naskah-asing/)
Selengkapnya »»  

Kamis, 15 November 2012

Pemecah Batu

pemecah batu
Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya.

Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.


Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.


Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.


Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.


Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.


Ketika ia menjadi gunung, ia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu.


Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.


Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja... sampai kita mulai membanding-bandingkan.


Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apa pun.



(sumber: http://nomor1.com/evanok484/pemecah-batu.htm)

Selengkapnya »»  

Rabu, 14 November 2012

4 Tips Agar Fokus

Pernahkah anda bertekad dengan sangat kuat menyelesaikan suatu pekerjaan yang terbengkalai esok hari, namun besok malamnya anda berakhir dengan tekad yang sama untuk mengerjakan pekerjaan yang sama juga? Hayo bingung ya? Kalau anda mengerti maksudku, berarti anda termasuk orang yang fokus *thumbs up*

tips agar fokus
Biasanya setelah mendapatkan motivasi anda akan merasa terisi dengan energi yang kuat untuk melakukan action. Tapi setelah beberapa lama energi kuat itu akan tergerus oleh dua hal - "komitmen" dan "fokus".

Komitmen adalah ketetapan hati untuk melakukan suatu niat sementara fokus adalah ketetapan otak/fikiran untuk tetap melaksanakan pekerjaan sesuai komitmen.

Posting kali ini, aku ingin mengingatkan diriku sendiri dan anda tentang bagaimana agar bisa tetap fokus :

1. Menyusun Rencana


Penyebab utama hilangnya fokus adalah perencanaan yang buruk. Aku sering menemui keadaan dimana pekerjaan menjadi terbengkalai karena perencanaan yang tidak matang. Bahkan lebih buruk lagi, tanpa rencana sama sekali.

Failing to plan is planning to fail

2. Menghayal pada saatnya


Siapa yang tidak tahu nikmatnya berkhayal? Saat imajinasi menjadi sangat kreatif, anda merasa bisa jadi apa saja. Tapi sisi buruk dari berkhayal adalah susahnya untuk fokus. Berkhayal membuat otak menjadi santai, tapi saat anda dalam situasi dimana harus konsentrasi, saat meeting contohnya, berkhayal tentu bukanlah hal yang tepat dilakukan.

3. Singkirkan Distraksi


Facebook dan Twitter adalah contoh distraksi terkuat untuk kebanyakan orang. Situs-situs berita dan hiburan juga memberikan andil yang besar membuat orang tidak fokus saat bekerja. Ini bukan pekerjaan mudah, karena kita sedang berhadapan dengan keinginan kuat dalam diri sendiri. Tapi kita tahu bahwa cara paling baik untuk tetap fokus adalah menyingkirkan semua sumber pengalihan (distraksi/distraction) selama waktu pekerjaan.

4. Istirahat


Fokus pada suatu hal untuk waktu yang lama pasti akan membuat otak kelelahan. Masuk akal tentunya jika istirahat masuk dalam daftar upaya agar bisa tetap fokus. Yang perlu diingat adalah jangan istirahat sebelum lelah. Hanya pemalas yang lebih banyak istirahatnya dibanding kerjanya.

Aku rasa ada hal-hal lain yang membuat aku dan anda sulit untuk fokus, silahkan ditambahkan ;)


Selengkapnya »»  

Jumat, 20 Januari 2012

Komitmen Terhadap Goal

Lomba maraton internasional 1986 di New York diikuti ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini berjarak 42 km mengelilingi kota New York. Jutaan orang di seluruh dunia menyaksikan acara ini melalui televisi secara langsung.

Ada satu orang peserta yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob seorang veteran perang Vietnam. Ia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya ke depan.

Lomba pun dimulai. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. Para penonton terus bertepuk tangan mendukung para pelari. 5 km telah berlalu. Beberapa peserta mulai kelelahan, mulai berjalan kaki. 10 km berlalu. Saat ini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut untuk iseng-2. Beberapa yang kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.

Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen masih berada di urutan paling belakang, baru saja menyelesaikan kilometernya yang pertama. Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya ke depan dengan kedua tangannya.

Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru “Ayo Bob! Ayo Bob! Berlarilah terus”. Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 km dalam satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.

Empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh. Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Kekuatannya mulai habis. Bob perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak di sana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.

Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah2 gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak “Ayo Bob, bangkit! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun! Jangan menyerah! Cepat bangkit !!!”

Perlahan Bob mulai membuka matanya kembali. Garis finish sudah dekat. Semangat membara lagi di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat- lompat ke depan. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu. Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.

Di hadapan puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata “SAYA BUKAN ORANG HEBAT. ANDA TAHU SAYA TDAK PUNYA KAKI LAGI. SAYA HANYA MENYELESAIKAN APA YANG TELAH SAYA MULAI. SAYA HANYA MENCAPAI APA YANG TELAH SAYA INGINKAN. KEBAHAGIAAN SAYA DAPATKAN ADALAH DARI PROSES UNTUK MENDAPATKANNYA. SELAMA LOMBA, FISIK SAYA MENURUN DRASTIS. TANGAN SAYA SUDAH HANCUR BERDARAH-DARAH. TAPI RASA SAKIT DI HATI SAYA TERJADI BUKAN KARENA LUKA ITU, TAPI KETIKA SAYA MEMALINGKAN WAJAH SAYA DARI GARIS FINISH. JADI SAYA KEMBALI FOKUS UNTUK MENATAP GOAL SAYA. SAYA RASA TIDAK ADA ORANG YANG AKAN GAGAL DALAM LARI MARATON INI. TIDAK MASALAH ANDA AKAN MENCAPAINYA DALAM BERAPA LAMA, ASAL ANDA TERUS BERLARI. ANDA DISEBUT GAGAL BILA ANDA BERHENTI. JADI, JANGANLAH BERHENTI SEBELUM TUJUAN ANDA TELAH TERCAPAI”

Selengkapnya »»  

Selasa, 04 Oktober 2011

Lebih Baik Diridhoi daripada Sekedar Diizinkan

Segala hal yang terjadi di muka bumi ini, termasuk yang terjadi dari hasil buah karya manusia (baik itu karya berfikir, karya hati, maupun karya perilaku), tentu dapat terjadi karena Allah SWT mengizinkannya terjadi. Entah hal itu baik atau positif maupun buruk atau negatif. Namun dari semua hal yang diizinkan terjadi itu, belum tentu Allah SWT meridhoinya terjadi. Keridhoan Allah SWT ini berhubungan dengan suka tidak sukanya Allah SWT terhadap apa yang terjadi itu. Sebagai yang Maha Baik tentu hanya hal yang baiklah yang disuka oleh-Nya. Allah SWT tentu akan ridho pada perilaku atau perbuatan baik (amal ma'ruf) manusia. Dan keridhoan-Nya pada perilaku manusia itupun kemudian yang menjadi faktor dirihoi oleh-Nya pula manusia mendapat kebaikan hidup di dunia maupun akhirat. Yupz, tentu yang lebih baik adalah diridhoi daripada sekedar diizinkan bukan?

Saya jabarkan sedikit tentang segala karya manusia : Ketika manusia berpikir (karya fikir), tentu apa yang dipikirkannya itu ada adalah atas izin-Nya. Ketika pikiran itu buruk (prasangka buruk, pemikiran picik, dsb) maka Allah SWT tentu hanya sekedar mengizinkan pikiran itu bebas ada di dalam pikiran manusia, namun Sang Maha Baik itu tentu tidak ridho ada keburukan terjadi, termasuk yang terjadi di pikiran manusia. Begitupun segala hal yang terjadi di dalam hati (karya hati) manusia, Dia izinkan semua pilihan perasaan ada dalam hati manusia, juga diizinkan segala niat, kepercayaan atau iman bernaung di hati manusia, namun belum tentu dirihoi-Nya. Dan ketidakridhoan-Nya tentu akan ada saat manusia mencintai nafsu, mencintai hal yang dibenci dan dilarang oleh Allah SWT, atau memiliki niat yang tidak baik, atau beriman pada yang selain dari Allah SWT, dll. Segala perbuatan (karya perilaku) manusia pun akan terjadi dan bisa terlakukan karena izin-Nya, namun tidak semua mendapat ridho-Nya. Dan dari semua hal di atas pun tentu tetap yang lebih baik adalah diridhoi daripada sekedar diizinkan bukan?

Selain apa yang terjadi dari karya manusia, segala yang ada di muka bumi ini pun ada karena izin-Nya. Seperti manusia dalam kehidupannya di dunia yang diizinkan oleh Allah SWT mendapatkan banyak hal. Hal yang didapatkan manusia itu ada yang baik dan ada juga yang buruk. Yang manusia dapat itu bisa rizqi (baik rizqi harta, ilmu, kesehatan, dll), bisa juga segala hal yang indah, bagus, nyaman, atau masalah, kesedihan, musibah, kehilangan (baik harta, nyawa orang terkasih, ketenangan hidup, hak asasi, dll). Dan penilaian baik atau buruknya tentu tidak bisa sekedar dipandang dari kaca mata manusia, karena yang baik menurut manusia belum tentu baik bagi Allah SWT, begitupun yang buruk dan sebaliknya. Namun yang pasti semuanya itu dapat ada dan sampai pada manusia atas izin-Nya, dan belum tentu diridhoi-Nya. 

Misalnya ketika manusia diberikan musibah, tentu itu adalah sebuah keburukan menurut manusia. Dan Allah mengizinkan terjadi sebuah musibah bukan Dia ridho hamba-Nya menderita dalam musibah, tetapi mungkin ada nilai hikmah yang baik dari musibah itu untuk manusia, karena kemahakasih-Nya yang tiada mungkin menganiaya hamba-Nya. Dan kemudian ketika manusia itu tetap dalam ketaqwaan dan keimanan ketika mendapat musibah, keridhoan Illahi untuk menggantikan yang lebih baik kemudian adalah yang paling baik bukan. 

Begitupun ketika manusia mendapatkan rizqi (apapun bentuknya, misalnya harta atau rizqi pujian, atau rizqi mendapatkan kedudukan yang baik di masyarakat, atau dianggap baik perilakunya oleh masyarakat, dll). Allah SWT tentu mengizinkan terjadi, namun belum tentu merihoinya terjadi, apalagi jika di dalam rizqi itu ada hal buruk, yang ternyata tidak baik tapi dianggap baik karena berbagai alasan manusia, atau yang melanggar hukum, melanggar ketentuan Allah, menganggu hak asasi manusia, dsb. Dan keburukan bagi Allah SWT yang diizinkan-Nya terjadi tentu hanya akan membuat manusia pada akhirnya mendapatkan keburukan yang setimpal dengan yang diperbuatnya, walau menurut manusia sebelumnya ia mendapat kebaikan yang ternyata buruk di akhirnya. Maka kerihoan Allah SWT pun begitu penting bagi manusia, terutama keridhoan-Nya agar manusia mendapatkan hal yang benar-benar baik di mata-Nya, di dunia dan akhirat. Sekali lagi dapat dikatakan bahwa yang lebih baik adalah diridhoi daripada sekedar diizinkan bukan?

Keridhoan Allah SWT tentu pada kebaikan, untuk kebaikan, dan hanya kebaikan. Manusia hanya perlu cermin diri untuk meraba ridho-Nya, yang tentunya cermin itu harus disandingkan dengan segala kebaikan ajaran agama, kebaikan akhlak, keimanan dan ketaqwaan pada-Nya.
Selengkapnya »»  

Senin, 19 September 2011

Asma' binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.huma.


Ibunya bernama Qutayrah binti Abu Uzza dari Bani Amir bin Lu’ai. Dia adalah saudara kandung Abdullah bin Abu Bakar ra. Asma’ telah dilahirkan 27 tahun sebelum Hijriyah. Usianya lanjut, sehingga dia wafat pada tahun ke-73 sesudah Hijriyah. Berarti usianya genap satu abad.
Dari masa jahiliyah hingga ke masa pemerintahan Bani Umayyah. Semenjak permulaan Islam, Asma’ telah banyak membantu perjuangan Nabi SAW beserta ayahnya. Ketika Rasulullah SAW dan Abu Bakar ra. dikejar-kejar oleh kafir-kafir Quraisy, keduanya bersembunyi di gua Tsur, maka setiap petangnya, Asma’ binti Abu Bakar seorang diri telah datang ke tempat persembunyian itu untuk membawa makanan dan minuman untuk Nabi SAW serta ayahnya. Pada malam ketiga, Asma’ juga telah datang ke tempat persembunyian Rasulullah SAW dengan membawa seorang penunjuk jalan, yaitu Abdullah bin Uraiqith. Kemudian Nabi SAW bersama sahabatnya meninggalkan gua itu untuk melanjutkan perjalanan. Sedangkan Asma’ membawakan bungkusan makanan bagi mereka. Dan karena dia tidak menemukan tali untuk mengikat makanan itu pada unta, maka ia membuka tali ikat pinggangnya, lalu disobeknya menjadi dua utas tali. Yang satu dijadikan ikat makanan kepada unta, dan yang lain diikatkan pada pinggangnya. Dan sejak itulah dia telah dikenal dengan panggilan ‘Wanita yang mempunyai dua ikat pinggang’.
Setelah berkhidmat dan membantu perjuangan Nabi SAW ketika berhijrah ke Madinah, Asma’ segera kembali ke rumahnya. Namun, belum sempat Asma’ tiba di rumahnya, beberapa orang kaum Quraisy dengan diketuai oleh Abu jahal, sudah berada di belakangnya. Asma’ ditanya dengan berbagai pertanyaan. Tetapi dia tetap menjawab, ‘Saya tidak tahu.’ Hal itu telah membuat Abu Jahal marah, lalu dia menampar Asma’ dengan tangannya yang kasar itu. Lantaran tamparan itu terlalu kuat, sehingga anting-anting Asma’ tercabut dari telinganya. Rasa sakit dari tamparan Abu jahal itu terus terasa oleh Asma’ sampai beberapa hari, bahkan dia tidak dapat melupakannya seumur hayatnya.
Asma’ telah memeluk Islam bersama-sama orang yang pertama memeluk Islam. Dia adalah orang yang kedelapan belas dalam urutan orang-orang yang mula-mula memeluk Islam. Usia Asma’ delapan tahun lebih tua dari ‘Aisyah ra. Asma’ telah menikah dengan Zubair bin Awwam ra. Dan darinya mempunyai anak: Abdullah, Urwah, Mundzir, Asim, Muhajir, Khadijah, Ummul Hasan dan ‘Aisyah. Suaminya, Zubair telah syahid dalam pertempuran jamal. Asma’ binti Abu Bakar berkata, ‘Ketika aku menikahi Zubair, dia belum mempunyai rumah, juga tidak mempunyai budak. Dia tidak mempunyai apa-apa di muka bumi ini selain kudanya. Akulah yang biasanya menggembalakan kudanya, memberinya makan, dan merawatnya. Selain itu aku juga yang menggiling bibit kurma, menggembalakan unta, memberinya minum, menambal ember, dan membuat roti. Sebenarnya aku tidak begitu pandai membuat roti, maka tetanggaku orang Anshar yang biasanya membuatkan roti untukku. Mereka adalah wanita-wanita yang ramah.’
Asma’ sering menjujung bibit kurma di kepalanya dari hasil tanah milik Zubair yang telah dihadiahkan oleh Rasulullah SAW kepadanya. Tanah itu jauhnya sekitar 2 mil. Suatu hari, Asma’ sedang membawa bji-biji kurma itu di atas kepalanya, di tengah perjalanan ia bertemu dengan Rasulullah SAW dan sekelompok sahabat ra. Lalu Beliau SAW memanggil Asma’, ‘Ayo! lkutlah!’ mengajaknya agar ikut di belakang beliau. Asma’ merasa malu sekati berjalan bersama para laki-laki. Dan ia teringat akan Zubair dan kecemburuannya. Karena Zubair termasuk orang yang paling pencemburu. Dan ketika Rasulullah SAW melihat bahwa Asma’ malu, lalu beliau pergi. Setelah itu, Asma’ menemui Zubair dan menceritakan kejadian tadi, ‘Tadi Rasulullah SAW bertemu denganku ketika aku sedang menjunjung biji kurma di kepalaku. Ada sekelompok sahabat bersama beliau. Beliau merundukkan untanya supaya aku bisa ikut menunggang unta itu bersama beliau, tetapi aku sangat malu dan aku tahu rasa cemburumu.’ Zubair berkata, ‘Demi Allah, memikirkanmu menjunjung biji kurma adalah lebih berat bagiku daripada kamu berkendaraan bersama beliau.’
Pada suatu ketika Asma’ merasa Zubair berlaku keras terhadapnya. Lalu Asma’ menemui ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq dan mengeluhkan tentangnya. Ayahnya berkata, ‘Putriku, sabarlah! Jika seorang wanita mempunyai suami yang sholeh dan dia meninggal, lalu wanita itu tidak menikah setelah itu, mereka akan dipersatukan kembali di surga.’
Asma’ binti Abu Bakar pernah datang menemui Rasulullah SAW dan berkata, ‘Ya Nabi Allah! Tidak ada apa-apa di rumahku kecuali apa yang dibawakan Zubair untukku. Salahkah bila aku menginfakkan sebagian dari yang dibawakannya itu?’ Beliau menjawab, infakkanlah yang kamu bisa. Jangan menimbun harta, atau Allah akan menahannya darimu.’ Kedermawanannya tidak diragukan lagi. Prinsip hidupnya adalah menyedekahkan apa yang ada, tanpa menyimpannya. la sangat meyakini, bahwa dengan memperbanyak sedekah akan menambah rezeki dan menyelesaikan masalah.
Diriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar jika merasa tidak enak badan, maka dia akan membebaskan semua budak miliknya. Jika ia merasa sakit kepala, maka ia akan meletakkan tangannya di kepalanya, seraya berkata, ‘Tubuhku, dan yang diampuni Allah sudah cukup!’ Asma’ pun sering menasehati putra-putri dan ahli keluarganya, ‘Berinfaklah dan bersedekahlah dan jangan menanti agar uangmu berlebih. Jika engkau mengharapkan uangmu berlebih, engkau tidak akan mendapatkannya. Jika engkau bersedekah, engkau tidak akan menderita kerugian.’
Demikian Islam melekat pada dirinya, sehingga kepada ibu kandungnya pun ia sangat berhati-hati, mengingat ibu kandungnya sendiri belum memeluk Islam. Diriwayatkan bahwa Qutayrah binti Abdul Uzza – yaitu istri Abu Bakar yang telah diceraikan pada zaman jahiliyah karena masih kufur – mengunjungi putrinya Asma’ binti Abu Bakar ra.. Ia membawa kurma, mentega cair dan daun mimosa. Tetapi Asma’ menolak tidak mau menerima pemberiannya itu, bahkan Asma’ telah melarang ibunya itu memasuki rumahnya. Kemudian Asma’ menemui Aisyah ra., “Tanyakanlah kepada Rasulullah SAW." Beliau menjawab, “Sebaiknya kamu izinkan ibumu masuk dan menerima pemberiannya.” Kemudian Allah menurunkan wahyu-Nya,
"Allah tidak melarangmu untuk berbuat baik, dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarangmu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, dan mengusirmu dari negerimu, dan membantu orang lain dari mengusirmu. Dan barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim."
(Al-Mumtahanah: 8-9)
Ketika usianya bertambah tua, Allah telah memberinya ujian, yaitu kedua belah matanya menjadi buta. Dan kezuhudan dan kecintaannya kepada akherat, telah banyak menjauhkan dirinya dari tipu daya duniawi. Pernah pada suatu ketika, putranya yaitu Mundzir bin Zubair telah datang dari lrak. Dan ia mengirimi Asma’ binti Abu Bakar ra. setelan baju yang terbuat dari kain halus yang sangat lembut. Ketika baju itu sampai, Asma’ menyentuh kain itu dengan tangannya, lalu ia berkata, ‘Hussh!  Kembalikan pakaian ini kepadanya!’ Terlihat Asma’ sangat gusar dengan hadiah itu. Melihat hal ini Mundzir berkata, ‘Wahai lbu, (baju) ini tidak tembus pandang!’ Asma’ menjawab, ‘Jika tidak tembus pandang, ia tembus cahaya.’ Kemudian Mundzir memberikan kepada Asma’ sebuah pakaian biasa dan Asma’ menerimanya. Asma’ berkata, ‘Aku akan memakai pakaian seperti ini.’
Pada suatu ketika, pada masa pemerintahan Bani Umayyah, ketika Asma’ telah berusia 100 tahun dan matanya telah menjadi buta, datanglah Abdullah bin Zubair menemui ibunya Asma’. Abdullah berkata, ‘Wahai ibuku! Orang-orang telah mengecewakanku. Aku tidak mempunyai pendukung, kecuali beberapa orang saja.’ Menanggapi kesedihan anaknya ini, Asma’ memberikan nasehat dan dorongan untuk membangkitkan lagi semangat anaknya, ia berkata,
‘Wahai anakku, engkau tentu lebih tahu tentang dirimu sendiri. jika engkau yakin, bahwa engkau di atas kebenaran, dan kepada kebenaran engkau menyeru orang, maka teruskanlah! Sahabat-sahabatmu juga telah terbunuh di atas kebenaran ini. Jangan engkau jadikan batang lehermu dipermainkan oleh anak-anak bani Umayyah.
Tetapi, jika engkau hanya menginginkan dunia semata, maka seburuk-buruk hamba adalah engkau! Engkau telah membinasakan dirimu sendiri, dan engkau telah membinasakan orang-orang yang telah terbunuh bersama-samamu.
Dan jika engkau berada di atas kebenaran, lalu sahabat-sahabatmu menghadapi kesulitan, apakah engkau akan menjadi lemah?! Demi Allah, ini bukanlah sikap orang-orang yang merdeka dan bukan pula sikap ahli agama. Berapa lama engkau akan tinggal di dunia ini? Mati adalah lebih baik!’
Mendengar nasehat dan dorongan dari Asma’ ini, maka Abdullah bin Zubair merasa tenang dan bersemangat. Lalu ia datang kepada Asma’ dan mencium kepalanya, sambil berkata, ‘Demi Allah, inilah pendapatku! Akan tetapi aku ingin mengambil pikiran darimu, dan kini engkau telah menambahkan kepadaku keteguhan hati di atas keteguhan yang telah ada padaku. lngatlah, wahai ibuku! Anggaplah aku ini sudah mati dari hari ini, dan aku harap engkau tidak terlalu sedih jika mendengar beritaku kelak, dan serahkanlah masalah ini kepada Allah!’ Kemudian Abdullah memberikan kata selamat tinggal kepada ibunya.
Dalam riwayat lain disebutkan, pernah Abdullah mengadu kepada ibunya tentang kebimbangan hatinya. Jika ia mati, tentu mayatnya akan dipotong-potong oleh Al-Hajjaj. Maka Asma’ menentramkannya dengan berkata, ‘Apakah orang yang sudah mati, akan merasakan siksa atau aniaya, yang dibuat oleh orang yang hidup? Tentu tidak bukan?!’
Ketika Abdullah telah terbunuh di tangan Al-Hajjaj, Hajjaj telah meletakkan mayatnya tersalib di atas batu. Dan dia bersumpah tidak akan menurunkannya dari atas salib itu, sehingga ibunya sendiri datang memohon kepadanya untuk menurunkan mayat itu. Akan tetapi, Asma’ sangat enggan untuk menundukan kepalanya kepada Al-Hajjaj. Maka mayat itu terus bergantung di situ, sehingga genap setahun lamanya di atas salib. Dan ketika pada suatu hari Asma’ lewat di situ, ia berkata, ‘Apakah masih belum sampai masanya bagi sang pahlawan ini untuk menapakkan kakinya di atas bumi!’ Mendengar ucapannya tersebut, orang-orang bani Umayyah telah menganggap kata-kata Asma’ itu sebagai permintaan belas kasihan kepada anaknya, maka mereka pun menurunkannya dari atas salib.
Al-Hajjaj pernah datang kepada Asma’ dengan penuh keangkuhan dan berkata kepadanya, ‘Apa pendapatmu tentang apa yang telah kulakukan terhadap anakmu?’ Asma’ menjawab dengan tegas, ‘Aku telah membinasakan dunianya, ketika dia telah berhasil membinasakan akhiratmu.’ Sebelumnya Asma’ telah berdoa, ‘Ya Allah! Janganlah Engkau ambil nyawaku sebelum mataku merasa bahagia dengan mayat anakku!’ Dan seminggu setelah mayat Abdullah diturunkan dari salib itu, barulah Asma’ meninggal dunia.
Diriwayatkan bahwa Asma’ binti Abu Bakar ra. juga termasuk golongan wanita-wanita pemberani. Dia selalu menyimpan sebuah belati di bawah bantalnya untuk melawan para pencuri yang merajalela di Madinah. Keberanian Asma’ bukan sekedar itu, bahkan ia berani berkata hak di hadapan seorang penguasa walaupun terasa pahit. la pernah pergi menemui Hajjaj dalam keadaan buta. Dia bertanya, ‘Di mana Hajjaj?’ Mereka menjawab, ‘la tidak di sini.’ Dia berkata, ‘Katakanlah kepadanya bahwa aku mendengar Rasulullah SAW berkata, ‘Ada dua orang laki-laki di Thaif: Yang seorang adalah pendusta dan yang seorang lagi adalah perusak.’ Yang dimaksud perusak adalah Hajjaj itu sendiri. Ketika pesan itu disampaikan kepada Hajjaj, Hajjaj berbalik mengunjungi Asma’ binti Abu Bakar ra. dan berkata kepadanya, ‘Putramu telah menumpang di rumah ini dan Allah telah membuatnya merasakan siksaan yang pedih yang telah dilakukan atasnya.’ Asma’ menjawab, ‘Engkau berdusta. Dia berbakti kepada kedua orang tuanya, berpuasa dan shalat, tetapi demi Allah, Rasulullah SAW memberitahu kami bahwa seorang pendusta akan muncul dari Tsaqif, yang satu lebih buruk dari yang pertama, yaitu ia seorang perusak.’ Asma’ binti Abu Bakar ra. mewasiatkan sebelum wafatnya, ‘Jika aku meninggal dunia, mandikanlah aku dan kafanilah, serta berilah wewangian, tetapi jangan tinggalkan parfum di kain kafanku dan jangan mengikutiku dengan api.’ Asma’ binti Abu Bakar ra. meninggal dunia beberapa malam setelah putranya Abdullah bin Zubair diturunkan dari salib. Abdullah bin Zubair telah terbunuh pada hari Selasa, 17 jumadil-Ula tahun 73 Hijriyah.
Selengkapnya »»  

Kamis, 15 September 2011

5 Dosa Wanita Di Facebook



1. Membuat profil palsu untuk menguntit mantan pacar
Hal satu ini mungkin  tampak sedikit ekstrem. Tapi, banyak wanita sengaja membuat profil palsu untuk bisa memantau mantan pacar tanpa diketahui pasangannya. Daripada menelepon atau mengirimkan sms, sekadar menulis "Apa kabar?" di wall Facebook, cara ini memang lebih aman.
2. Memanipulasi penampilan
Menurut pria, tidak sedikit wanita yang sering memasang foto di Facebook untuk menampilkan citra diri yang tidak sesuai realitas. Dalam foto-foto mungkin ingin terlihat lebih seksi dan berani atau sebaliknya, dan berlawanan dengan kenyataan. Hati-hati, hal ini bisa menjadi bumerang buat wanita.
3. Menulis status berlebihan dan provokatif
Status di Facebook bisa dibaca siapa saja dan banyak wanita yang mengggunakannya untuk tujuan provokasi atau pamer. Bagi pria, hal yang paling menyebalkan adalah "curhat", soal kehidupan pribadi di status. Menurut pria, lebih baik berbicara langsung daripada mengumbarnya di Facebook, karena kesannya seperti mengharap belas kasihan. Selain itu, pamer soal kelebihan atau tempat yang didatangi dan langsung memasangnya di status.
4. Memasang foto ambigu
Status sudah berhubungan dengan seseorang, tetapi dalam beberapa foto terlihat mesra dengan pria lain. Hal ini seperti ingin "membakar" rasa cemburu pasangan dengan cara kekanakan. Foto ambigu itu juga menurut pria, sengaja untuk membuat orang lain mempertanyakan hubungannya, dan memberikan perhatian padanya.
5. Status hubungan palsu
Beberapa wanita lajang banyak memasang status hubungan dengan "in a relationship". Hal ini dilakukan untuk menghindari reaksi "kasihan" orang atas statusnya yang masih lajang. Hal ini menurut pria, sangat tidak masuk akal, karena justru status tersebut menghambatnya mendapat pasangan.


(sumber: blognyajose.blogspot.com)
Selengkapnya »»  

Membongkar Sebuah Kebohongan Mengenai Dracula



Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Horror of Dracula (1958), Nosferatu (1922) —yang dibuat ulang pada tahun 1979— dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.
Sejarah Drakula

Vlad Ţepes III (1431 – 1476 Masehi) atau yang lebih populer dengan nama Drakula dilahirkan di Transylvania, Rumania.

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman (sebagai wakil Islam) dan Kerajaan Hongaria (sebagai wakil Kristen) semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk memperebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel, benteng Kristen, ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas, Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam perang inilah Dracula banyak melakukan pembantaian terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara —yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab— yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatan seolah robot yang telah diprogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hitler dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan, dan kelemahannya.
Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat —khususnya umat Islam sendiri— yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.
Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, “bawang putih” dan “salib”. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka —pahlawan dari pihak Islam— dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.
Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Dialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danau Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.
Selengkapnya »»  

Senin, 12 September 2011

Foto Aura Kasih Bangun Tidur



Aura Kasih bangun tidur. No bokep inside. No bugil. He he he....  Nih fotonya Aura Kasih kalo bangun tidur  :D












(sumber: best-bb17.blogspot.com)
Selengkapnya »»  

Jumat, 09 September 2011

Di Balik Gurihnya Mie Instan, Waspadai Bahaya Kandungan Mie Instan

Isu usang yang telah lama beredar, kenapa ditulis juga? Alasannya simpel aja, sayang kalau harus mencari file ini browsing sana-sini, mendingan simpen aja di blog, lebih mudah mencarinya jika suatu saat ingin mencarinya.
Memang sih, ini bukan tulisan pribadi, karena tulisan ini kutipan dari beberapa sumber, yuk kita baca…

Mie instan, siapa sih yang tidak doyan? Malah sebagian orang keranjingan dengan jenis makanan ini. Ada yang kalau tidak makan mie seminggu saja rasanya kangen berat. Ada yang menyediakannya sebagai pintu darurat kalau lagi tidak sempat memasak. Bahkan para anak kost menjadikan mie instan sebagai makanan kebangsaan. Anak-anak pun, kalau tidak suka mie pasti punya kelainan selera. Coba tanya para ibu tentang hal ini.
 “Hampir tiap hari anak saya minta mie. Kalau saya menolak, dia bisa bikin sendiri. Sebulan bisa satu kardus habis,” Tutur Ibu Tia yang anaknya sudah berusia 10 tahun.
 “Saya pernah ditegur tetangga gara-gara mie. Anak saya menangis kenceeng banget. Pagi dia sudah makan mie. Siang minta mie lagi. Tentu saja saya tolak. Tetangga saya datang dengar tangisannya. Waktu dia tahu masalahnya, dia ngomelin saya, kenapa tidak dikasih saja, kasihan anak sampai nangis begitu. Saya jadi serba salah, kata orang mie instan tidak baik untuk kesehatan anak, tapi anak saya doyan banget…,” Bu Ririn, ibu dari Ama yang baru berusia 2 tahun bercerita.
 “Anak saya susah makan. Kalau makan bisa sampai satu jam. Tapi kalau mie, wah…lahap banget. Tak sampai sepuluh menit habis deh,” Mama Ano menceritakan kebiasaan makan anaknya yang baru lima tahun.
Cerita ibu-ibu lain tentu tak kalah seru. Tapi memang, mie instan enak. Harganya juga murah. Rasanya beraneka ragam tinggal pilih. Berbagai merek baru juga terus bermunculan, menantang untuk dicoba. Namun masalahnya, bagaimana status kehalalan dan keamanannya bagi kita?

Titik Kritis di Seluruh Bahan

Titik kritis kehalalan pada mie instan terletak pada semua bahan yang digunakannya. Kok bisa? Tepung terigu, minyak goreng, bumbu-bumbu kan halal? Belum tentu. Tepung terigu pun bisa tercemar bahan haram. Saat ini tepung terigu difortifikasi (diperkaya) dengan vitamin, sedangkan vitamin sifatnya banyak yang tidak stabil sehingga harus dicoating (dilapisi). Salah satu bahan pelapis yang harus diwaspadai adalah gelatin, yang kemungkinan berasal dari babi. Selain itu sumber vitamin juga harus jelas, apakah berasal dari hewan, tumbuhan atau mikroorganisme.
Bahan-bahan lain yang harus diwaspadai adalah :
1. Bumbu dan Pelengkap
Bumbu yang digunakan antara lain adalah MSG atau vetsin. Titik kritisnya adalah pada media mikrobial, yaitu media yang digunakan untuk mengembangbiakkan mikroorganisme yang berfungsi memfermentasi bahan baku vetsin. Sedangkan bahan pelengkap mie instan adalah bahan-bahan penggurih yaitu HVP dan yeast extract. HVP atau hidrolized vegetable protein merupakan jenis protein yang dihidrolisasi dengan asam klorida ataupun dengan enzim. Sumber enzim inilah yang harus kita pertanyakan apakah berasal dari hewan, tumbuhan atau mikroorganisme. Kalau hewan tentu harus jelas hewan apa dan bagaimana penyembelihannya. Sedangkan yeast extract yang menjadi titik kritis adalah asam amino yang berasal dari hewan.
2. Bahan Penambah Rasa
Bahan penambah rasa atau flavor selalu digunakan dalam pembuatan mie instan. Bahan inilah yang akan memberi rasa mie, apakah ayam bawang, ayam panggang, kari ayam, soto ayam, baso, barbequ, dan sebagainya. Titik kritis flavor terletak pada sumber flavor. Kalau sumber flavor dari hewan, tentu harus jelas jenis dan cara penyembelihannya. Begitupun flavor yang berasal dari rambut atau bagian lain dari tubuh manusia, statusnya adalah haram.
3. Minyak Sayur
Minyak sayur menjadi bermasalah bila sumbernya berasal dari hewan atau dicampur dengan lemak hewan.
4. Solid Ingredient
Solid ingredient adalah bahan-bahan pelengkap yang dapat berupa sosis, suwiran ayam, bawang goreng, cabe kering, dan sebagainya. Titik kritisnya tentu pada sumber hewani yang digunakan.
5. Kecap dan Sambal
Kecap dan sambal pun harus kita cermati lho. Kecap dapat menggunakan flavor, MSG, kaldu tulang untuk menambah kelezatannya. Sementara sambal menggunakan emulsifier untuk menstabilkan campurannya. Emulsifier dapat berasal dari sumber hewani yang harus kita ketahui dengan jelas.

Amankah Mengkonsumsi Mie Instan ?

Selama mie instan tersebut sudah mendapat izin dari Depkes, tentulah aman. Namun bila dikonsumsi setiap hari, apalagi oleh anak-anak, inilah yang menjadi masalah.
Sebagaimana makanan instan produk industri lainnya, mie instan menggunakan banyak sekali bahan-bahan kimia. Pewarna, pengawet, dan penyedap harus kita waspadai dalam hal ini. Sekalipun aman, namun bila terus menerus kita konsumsi dalam frekuensi sering dan dalam jangka waktu lama, bahan-bahan kimia dapat terakumulasi dalam tubuh. Efeknya tentu akan mengganggu sistem metabolisme, karena bahan kimia, bagaimana pun adalah racun bagi tubuh.
Selain itu, terlalu sering makan mie instan juga dapat mengganggu masukan gizi, terutama anak-anak. Kita memang dapat menambahkan telur dan sayuran sehingga kualitas gizi mie instan tidak kalah dengan seporsi nasi komplet. Namun rasa mie yang terlalu gurih, dapat merusak selera makan anak. Lidah mereka yang sedang belajar mengidentifikasi rasa, akan terpola dengan rasa gurih yang tajam dari MSG dan flavor mie. Akibatnya mereka menganggap masakan ibu yang umumnya tidak terlalu banyak menggunakan MSG hambar. Selera makan mereka pun hilang. Akhirnya, mau mie lagi, mie lagi…
Karena itulah, biar enak, kita tetap harus mampu mengontrol diri. Jangan terlalu sering mengkonsumsi mie instan, apalagi memberikan ke anak-anak. Sesekali silahkan, apalagi saat-saat cuaca dingin.

Para penggemar Mie Instan, pastikan Anda punya selang waktu paling tidak 3 (tiga) hari setelah Anda mengkonsumsi Mie Instan, jika Anda akan mengkonsumsinya lagi. Dari informasi kedokteran, ternyata terdapat lilin yang melapisi mie instan. Itu sebabnya mengapa Mie Instan tidak lengket satu sama lainnya ketika dimasak. Konsumsi Mie Instan setiap hari akan meningkatkan kemungkinan seseorang terjangkiti kanker.
Seseorang, karena begitu sibuknya dalam berkarir (bekerja) sehingga tidak punya waktu lagi untuk memasak, sehingga diputuskannya untuk mengkonsumsi Mie Instan setiap hari. Akhirnya dia menderita kanker.
Dokternya mengatakan bahwa hal ini disebabkan karena adanya lilin dalam Mie Instan tersebut. Dokter tersebut mengatakan bahwa tubuh kita memerlukan waktu lebih dari 2 (dua) hari untuk membersihkan lilin tersebut.
Ada seorang pramugari SIA (Singapore Air) yang setelah berhenti dan kemudian menjadi seorang ibu rumah tangga, tidak memasak tetapi hampir selalu mengkonsumsi Mie Instan setiap kali dia makan. Kemudian akhirnya menderita kanker dan meninggal. Jika kita perhatikan Mie China yang berwarna kuning yang biasa ditemukan di pasar, dari hasil pengamatan, mie yang belum dimasak tersebut akan terlihat seperti berminyak. Lapisan minyak ini akan menghindari lengketnya mie tersebut satu dengan lainnya. Mie Wonton yang masih mentah biasanya ditaburkan tepung agar terhindar dari lengket. Ketika tukang masak akan memasak mie, dia memasaknya pertama-tama dalam air panas, kemudian dibilas/ditiriskan dengan air dingin sebelum dimasak dengan air panas lagi. Memasak dan meniriskan dengan cara ini akan dapat menghindari lengketnya mie tersebut satu sama lainnya.
Tukang masak memberikan minyak dan saos pada mie tersebut agar tidak menjadi lengket ketika akan dikonsumsi secara kering (tanpa kuah).
Aturan masak dalam membuat Spaghetti (Mie dari Italia), akan dibutuhkan minyak dan mentega yang ditambahkan terlebih dahulu pada air rebusan Spaghetti untuk menghindari lengketnya pasta tersebut.


Ada kisah yang mengerikan :
* Ada orang yang sekarang usianya sekitar 48 tahunan tapi sudah 4 tahun terakhir ini kemana-mana membawa alat, maaf, sebagai pengganti anusnya, karena usus bawah sampai dengan anus telah dipotong sebab sudah tidak bisa dipakai lagi pasalnya waktu mahasiswa dengan alasan ekonomi mengkonsumsi mie instant secara berlebihan sehingga bagian usus yang dipotong tersebut adalah tempat mengendapnya bahan pengawet yang selalu ada di setiap mie instant mungkin sejenis borax pengawet untuk mayat (data menunjukkan bahwa import borax dan sejenisnya sangat besar ke Indonesia) dan walhasil menimbulkan pembusukan ditempat tersebut, semoga semua pihak berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan seperti bakso, sosis, mie, dll.
* Ada lagi, orang yang pernah kena kanker getah bening (8 kelenjar getah bening kena), dan berobat selama hampir 1 tahun di Singapore menghabiskan lebih dari 1 Milyar pada tahun 1996 sampai 1997 (untung ditanggung kantor), akibat dia mengkonsumsi indomie plus korned selama 4 tahun terus menerus setiap hari (dengan alasan karena istrinya sibuk kerja). Menurut dokter yang mengobatinya, penyebab utamanya adalah pengawet yangg ada di indomie dan korned tsb.


Berbagai Sumber
Selengkapnya »»